SEKALI PERISTIWA DIBANTEN SELATAN
Buku ini ditulis oleh pramodya ananta toer ketika
sedang melakukan perjalanan singkat diwilayah banten selatan, buku ini
menceritakan tentang penindasan yang dilakukan kepada masyarakat kecil
dibanten, tak jarang masyarakatnya juga sering mendapat diskriminasi karena
mempunyai rupa yang kecil, hitam, dan pendek seperti kera bahkan ditanah
kelahirannya sendiri warga banten yang diceritakan dibuku pramoedya ananta toer
ini sering mendapat perlakuan yang sangat kejam.
Novel ini berfokus kepada seorang pribumi yang bernama
ranta, ia adalah seorang laki-laki dewasa yang dinilai lemah dan tak berdaya
karena ranta ini sering dimanfaatkan oleh segelintir manusia berhati iblis
untuk disuruh melakukan hal-hal yang tidak terpuji seperti mencuri. Pada suatu
ketika ranta yang sebenernya adalah orang yang baik dipaksa mencuri kembali
oleh seorang saudagar kaya bernama juragan musa, juragan musa diketahui adalah
salah satu petinggi dari darul islam yaitu organisasi yang sangat dibenci oleh
masyarakat dibanten. Karena komunitas ini sering menindas rakyat kecil seperti
merampok, mencuri, dan membakari rumah-rumah warga. Ranta yang pada saat itu
sudah menyelesaikan tugas yang diberikan oleh juragan musa pun memberikan hasil
curiannya tetapi bukannya mendapat imbalan justru makianlah yang didapat oleh
ranta.
Ranta yang melihat situasi ini pun sudah tidak bisa
menahan amarahnya lagi, dari situlah ranta bertekad untuk melawan rasa takutnya
kepada manusia yang sebenarnya juga memiliki mental seperti ayam. Ia melakukan
sebuah gebrakan yang tidak diduga duga oleh siapapun mengingat ranta ini adalah
seorang rakyat kecil dan miskin, lemah dan takberdaya tetapi ia mampu membuat
petinggi darul islam ketakutan, dan mampu menggoyahkan organisasi sebesar itu.
Usaha ranta untuk mensejahterakan kampung halamannya
tentu tidak sia-sia walaupun masalah yang dihadapi juga sangat kompleks tetapi
ranta dan para warga lainnya mampu menegakkan keadilan berkat kerja sama dan
tekad untuk mendapatkan hak yang selama ini hilang dan direnggut oleh
manusia-manusia serakah.
Novel ini sangat bagus karena menurut saya alurnya
tidak bertele-tele jadi untuk saya yang sebenarnya tidak suka membaca, novel
ini tidak membuat saya merasa bosan saat membacanya karena disetiap halaman
pasti terdapat peristiwa yang mengandung emosi seperti adegan dirumah juragan
musa, disaat saya membaca part ini jujur saya ikut terbawa geram ketika juragan
musa terus menyangkal bahwa ia adalah bagian dari DI sementara bukti yang
mengarah kalau dia bagian dari organisasi tersebut terus berdatangan, sampai
saya ingin berkata-kata kasar kepada sijuragan musa ini tetapi untung saya bisa
menahannya karena sedang puasa, untuk keseluruhan novel ini sangat bagus dan
berkesan, karena saya juga berasal dari banten saya sempat kagum kepada tokoh
ranta walaupun dikatakan novel ini adalah karangan atau fiksi belaka tetapi
saya yakin mungkin “sekali peristiwa dibanten selatan” ini adalah segelintir
peristiwa yang memang sebenarnya terjadi didunia nyata pada zaman dahulu.
Kekurangan novel ini menurut saya sampulnya kurang
menarik karena jujur saya adalah tipikal orang yang kalau membaca buku dilihat
dari sampulnya terlebih dahulu, tetapi untuk keseluruhan cerita saya katakan
sekali lagi saya sangat berkesan karena buku ini adalah buku karya sastra
pertama yang saya baca tetapi sudah bisa membawa emosional saya, mungkin
selanjutnya saya akan mencari tahu sendiri novel-novel sastra yang bersejarah
diindonesia karena saya mulai tertarik.
Pesan moral yang diambil dari novel ini keberanian dan
kerja sama yang dilakukan penduduk banten untuk menegakkan keadilan dan
kebenaran, ketika badai datang, satu orang mungkin akan goyah tetapi ketika
banyak tangan bersatu, tidak ada yang tidak mungkin. Penduduk dibanten selatan
mengajarkan bahwa keberanian bukan hanya milik individu tetapi juga lahir dari
kebersamaan yang tak tergoyahkan.

Komentar
Posting Komentar